Logo Indonesia

CSPS SKSG UI: “Dinamika Masyarakat Terbelah, Filosofi Pancasila Senjata Ampuh Memerangi COVID-19”

  Admin cspsui.com    Informasi Seputar Kegiatan CSPS CSGS SKSG UI    15-09-2023 14:49

CSPS SKSG UI: “Dinamika Masyarakat Terbelah, Filosofi Pancasila Senjata Ampuh Memerangi COVID-19”

JAKARTA – Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) telah menyelenggarakan Focus Grup Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terpumpun pada Selasa (13/7) malam, melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting.

FGD CSPS SKSG UI tersebut menyimpulkan bahwa dinamika masyarakat Indonesia kini sedang “terbelah” dalam menyikapi dan menghadapi pandemi Coronavirus Desease 2019 (COVID-19). Akibatnya, penanggulangan wabah pun menjadi tersendat.

Sebagai solusi terhadap problematika bangsa, CSPS SKSG UI mengusulkan agar semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dapat melakukan pendekatan nilai-nilai dan filosofi Pancasila. Pendekatan ini dapat menjadi senjata ampuh dalam memerangi pandemi COVID-19 seiring dengan penanganan aspek kesehatan dan pemulihan ekonomi.

FGD ini dipimpin oleh Ketua CSPS SKSG UI, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., dengan peserta para peneliti dan analis dari CSPS SKSG UI, antara lain Dr. Drs. Nyoman Astawa, M.Si., M.Phil., Dr. (Candidate) Yanuardi Syukur, M.Si., Marlon Samuel C. Kansil, S.Psi., M.Si., dan Andie Hevriansyah, A.M.K., S.Sos., S.H., M.Si.

Dua peserta lainnya ialah Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si., dan Ir. Ajeng Pramastuty, S.T., M.Si., yang juga peneliti CSPS SKSG UI.

“Saatnya masyarakat bersatu, bersama-sama menghadapi pandemi COVID-19. Pancasila menjadi senjata ampuh untuk mengatasi pandemi COVID-19,” tegas Guntur SUbagja Mahardika pada Selasa (14/7) malam.

Dalam FGD ini peneliti CSPS SKSG UI, Dr. Nyoman Astawa, memotret dinamika masyarakat yang terbelah itu akibat sikap prismatik. Akibatnya, saat menerima informasi tertentu, mereka langsung menyebarluaskannya tanpa ditelaah dahulu.

“Apalagi peran media massa sangat besar di era revolusi industri 4.0. Kecenderungan masyarakat yang sangat gandrung terhadap media sosial menyebabkan adanya distorsi informasi,” jelas Dr. Nyoman Astawa.

Penyebab lain dari distorsi informasi, lanjutnya, ialah ketidaksiapan para pelaku revolusi industri 4.0. “Dari aspek ini, maka kita harus membumikan Pancasila,” imbuh Dr. Nyoman Astawa, M.Si., M.Phil.

Peneliti CSPS SKSG UI lainnya, Andi Hevriansyah, A.M.K., S.Sos., S.H., M.Si., melihat Pancasila sebagai ruh dari strategi penting pemerintah dan masyarakat dalam memerangi pandemi COVID-19.

“Filosofi Pancasila sangat penting untuk memenangkan perang melawan pandemi COVID-19. Sila pertama Pancasila mengajak segenap masyarakat untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Lalu Sila Kedua, kepedulian masyarakat tampak dalam sikap saling membantu dala kemanusiaan,” ujarnya.

Sila ketiga, ungkapnya, seluruh masyarakat harus bersatu dan bekerja sama (bahu-membahu) dalam memerangi pandemi COVID-19. Sila keempat, semua pemangku kepentingan harus bermusyawarah dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis tekait pandemi COVID-19.

“Sedangkan sila kelima, perlu ada keadilan sosal dalam pelayanan kesehatan dan bantuan sosial bagi penyintas dan masyarakat terdampak pandemi COVID-19. Selain itu, filosofi Pancasila pun dapat diterima masyarakat dari Sabang sampai Merauke,” jelasnya.

Peneliti lainnya, Marlon Samuel C. Kansil, S.Psi., M.Si., mendeskripsikan dinamika politik, hukum dan keamanan nasional yang terekam dalam perbincangan media sosial.

“Pada semester pertama ini, intensitas perbincangan di bidang politik, hukum dan keamanan (polhukam) meningkat. Ada sekitar 24 persen yang berupa soundbite untuk mendukung kebijakan pemerintah, namun 75 persennya berupa noise,” ungkap Marlon Samuel C. Kansil.

Sementara itu peneliti CSPS SKSG UI, Dr. (Candidate) Yanuardi Syukur, S.Sos., M.Si., menyatakan bahwa semua pihak yang terkait penanganan pandemi COVID-19 perlu mencari titik temu dalam bangunan kebangsaan. “Saat ini, aktivis dan buzzer lebih banyak mencari titik pisahnya, hal ihni harus dikurangi,” imbuhnya.

Sedangkan peneliti CSPS SKSG UI, Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si., memaparkan sejumlah kebijakan pemerintah yang kontroversial sehingga memicu respon pro dan kontra di tengah masyarakat.

“Misalnya, hingga saat ini pemerintah masih membuka pintu masuk untuk penerbangan internasional di tengah berlakunya aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali,” ucapnya.

Respon terhadap peran media sosial di tengah pandemi COVID-19 juga ditanggapi salah satu peneliti CSPS SKSG UI, Ir. Ajeng Pramastuti, S.T., M.Si. “Peran sosial media sangat penting untuk menyebarkan informasi positif mengenai penanganan COVID-19,” imbuhnya.

Hingga Selasa (13/3) malam, tercatat bahwa Warga Indonesia yang terpapar pandemi COVID-19 mencapai 2,6 juta orang. Dari jumlah itu, warga yang telah meninggal dunia tercatat ada 68 ribu jiwa. Sedangkan sebanyak 2,1 juta jiwa telah sembuh.

“Namun Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah wagra yang wafat akibat pandemi COVID-19 meningkat lagi. arena itu, mari kita dukung PPKM Darurat untuk mempercepat pemulihan,” ungkap Guntur Subagja Mahardika.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Peneliti CSPS SKSG UI

Sumber Foto: CSPS SKSG UI / Muhammad Ibrahim Hamdani


Tag: #Politik

Langganan